Share It

Senin, 11 April 2011

KEGUNAAN TEORI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


 
KEGUNAAN TEORI-TEORI PIAGET, GAGNE, BRUNER, AUSUBEL, KONSTRUKTIVISME, DAN TEORI KONTEKSTUAL YANG LAIN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


1.        TEORI PIAGET
     Piaget mengemukakan tahap perkembangan kognitif manusia terbagi dalam empat tahap, yaitu tahap sensori-motor, tahap pra-operasional, tahap operasi konkret, dan tahap operasi formal. Pada tahap sensori-motor, pemahaman anak bergantung pada kegiatan tubuhnya, terutama alat-alat indera mereka. Pada tahap pra-operasional, anak sudah mulai bisa menggunakan pkirannya, namun masih bersifat egosentris, masih berpusat pada diri sendiri dan belum bisa berfikir objektif. Pada tahap operasi konkret, anak sudah bisa berpikir secara objektif, dan sudah mampu berpikir logis tentang beberapa hal, namun masih tetap harus menggunakan benda-benda konkret untuk membantu proses berpikir tersebut. Pada tahap yang terakhir, yaitu tahap operas formal, anak sudah mampu berpikir logis tanpa harus ada benda-benda konkrett (sudah mampu melakukan abstraksi).
     Teori Piaet sangat berguna untuk pembelajaran matematika.   Guru bisa tahu tahap-tahap perkembangan berpikr anak, sehingga bisa menerakan cara mengajar yang tepat uuntuk siswanya. Contoh, seorang guru matematika kelas V dimana siswanya kebanyakan berusia 10 – 11 tahun. Menurut teori Piaget, usia siswa kelas V berarti mask dalam tahap berpikir kognitif operasi konkret, maka dari itu, seorang guru matematika kelas V menggunakan benda-benda konkret atau benda tiruan untuk mengajarkan materi ajarnya, misal dalam mengajarkan bangun ruang menggunakan balok dari kayu sebagai balok, kelereng sebagai bola, drum air sebagai tabung, dan sebagainya.
     Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa teori Piaget ini sangat bermanfaat uuntuk menentukan metode dan pendekatan mengajar untuk guru matematika, terutama guru matematka SD dimana yang dihadapi masih usia anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih dari guru.


2.        TEORI GAGNE
     Teori yang diungkapkan Gagne meliputi empat hal, yaitu objek, fase, jenis, dan hirarki. Objek-objek matematika yang dikemulakan Gagne adalah Fakta, yatu kesemufakatan (apa yang telah disepakati dan tidak perlu dibuktikan kebenarannya) matematika yang digunakan untuk memperlancar pembicaraan matematka, ketrampilan matematika, yaitu operasi dan prosedur dalam matematika yang digunakan dalam proses untuk mencari hasil tertentu, Konsep matematika, yaitu ide abstrak yang memungkinkan untuk mengklasifikasikan objek yang termasuk ide tersebut atau bukan. Prinsi matematika, yaitu pernyataan yang bernilai benar, memuat hubungan dua atau lebih kosep.
     Manfaat adanya teori mengenai objek matematika ini adalah untuk mempermudah dan memperlacar pembelajaran matematik. Sebagai contoh, seorang guru matematika kelas satu (I) yang akan mengenalkan lambang bilangan satu adalah 1 untuk jenis bilangan Hindu-Arab. Guru yang sudah punya pengetahuan tersebut akan lebih mrdah menjelaskan daripada guru yang belum punya pengetahuan bahwa hal itu merupakan fakta matematika.
     Teori Gagne yang mengungkapkan tentang fase kegiatan belajar melputi empat hal, yaitu aprehensi dimana siswa melakukan penceatan terhadap stimuls antara lain dari segi ciri-ciri, fase akuisi dimana siswa menyerap/ interrnalisasi terhadap apa yang telah diterimanya, tahap penyimpanan ke dalam memori, dan tahap pemanggglan dimana sisa dapat mengingat kembali apa yang telah dipelajari, sehingga akan mudah mengerjakan soal.
     Manfaat fase belajar bagi pembelajaran matematika adalah, memudahkan guru mengajar. Guru akan mengajar dari hal yang paling mudah ke yang sukar dengan penjelasan yang jelas dan tegas, sehingga ketika anak akan ujian tidak perlu ada drill soal, denga fase pemanggilan anak sudah akan mengingat hal pokok yang diajarkan.
     Teori Gagne yang berikutnya adalah mengenai jenis belajar. Jenis belajar yang diungkapkan Gagne meliputi belajar isyarat, belajar stimulus respon, belajar rangkaian gerakan, belajar rangkaian verbal, belajar membedakan, belajar konsep, belajar aturan, belajar pemecahan masalah. Manfaat teori ini adalah memberi kesempatan guru untuk menggunakan berbagai variasi metode dalam mengajar, sehingga siswa yang berada pada fase-fase belajar tertentu tetap dapat mengikuti proses belajar dengan baik. Misal mengajarkan volume kubus, mulai dari bentuk kubus, ciri-ciri, keudian rumus menghitung volume, sampai pada masalahyang berkaitang dengan volume kubus. Anak yang melewati semua fase belajar akan mudah mengerti dan mengingat, serta tahu keguanaan pelajaran di dalam kehidupannya.
     Teori yang mengungkapkan adanya hirarki dalam belajar jga sangat bermanfaat, misal untuk mengetahu penjumlahan bilangan cacah, siswa harus tahu konsep tentang blangan cacah, maka guru harus mengajarkan dulu yang dimaksud dengan bilangan cacah, baru bisa mengajarkan tentang penjumlahan kemudian penjumlahan bilangan cacah.


3.        TEORI BRUNER
     Yang menjadi pokok dai teori Bruner adalah adanya tahap-tahap dalam belajar, yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap enaktif, dimana anak belajar dengan benda-benda konkret, tahap ikonik, dimana anak belajar degan gambar atau bayangan visual, dan tahap simbolik, dimana anak sudah bisa menggunakan simbol-simbol untk belajar, sehingga tidak lagi perlu benda konkret untuk membelajarkan materi ajar.
     Manfaat adanya teori ini adalah guru mampu membelajarkan matematika secara utuh dan runtut, sehingga siswa mampu mengerti materi ajar dengan baik dan semurna. Mial seorang guru akan mengajarkan pengurangan, mula-mula mengajarkan menggunakan lidi atau batu atau kelereng, kemudan tahap berikutnya menggunakan gabar yang mewakili proses penjumlahan, baru tahap terakhir hanya dengan sbol, misal 5 – 3 =...
Dengan demikian, pengetahuan anak akan utuh dan mengerti secara penuh bahwa 5 – 3=2 adalah punya lidi lima, kemudian dminta atau diberikan pada orang lain tiga dan sisa dua.
     Sedangkan teorema-teorema yang diungkapkan oleh Bruner dapat digunakan sebagaimana yang dibutuhkan dalam suatu prose belajar mengajar, sehingga prosews tersebut dapat bejalan dengan baik dan utuh.

4.        TEORI AUSUBEL
     Ausubel mengemukakan bahwa metode yang sering dianggap metde yang kurang efektif bukanlah benar-benar kurang efektif, karena yang efektif bukanlah metode yang digunakan, tetapi lebih pada keadaan siswa dan guru dalam kelas. Kelas yang aik akan menjadi lebih baik dan mengerti apa yang diajarkan bila menggunakan metode yang tepat. Jadi dalam menentuka mi5tode yang tepat bukan semata-mata metode yang mdern dan palling ‘wajh’, tetapi tergantung balgaimana keadaan kelas. Misal menghadapi kelas yang scenderung pasif dan tidak mau berbicara, maka metode ceramah mungkin bisa menjadi metode yang baik, karena anak yang cenderung diam kemungkinan besar mempunyai daya tangkap tinggi berdasarkan pendengarannya.
     Menurut Ausubel, kelas juga harus dikondisikan sebagaimana mestinya. Misal dengan membuka pelajaran dengan mengkaitkan hubungan dengan kehidupan sehar-hari.
     Dalam kelas yang cendeerung diam dan pasif, untuk mengajarkan materi bangun ruang, digunakan metode ceramah dengan menggunakan ruang kelas sebagai conoh konkret dan berhubungan dengan kegatan sehari-hari mereka.

5.        TEORI KONSTRUKTIVISME
     Teori ini menyatakan bahwa setisap pengetahuan hanya mampu dikuasai oleh oarang yang aktif mengkostruksi (membangun) pengetahuannya sendiri, dari eksperimen maupun mempelajari ilmu-ilmu tertentu dari buku dan guru. Tugas guru hanyalah mendidik agar proses pembentukan pengetahuan itu menjadi lebih bermakna, dan utuh.
     Kelebihan teori konstruktivisme ialah siswa berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh siswa. Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan masalah yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu masalah.
     Salah satu contoh pemanfaatan teori ini adalah dalam pembelajaran matematika, jika seorang siswa mengatakan bahwa x(a+b) = xa + xb. Guru tidak harus lansung mengatakan benar, tetapi siswa diajak membuktikan dulu mengapa hal itu bisa menjadi benar, sehingga siswa benar-benar mengetahui hal itu dari pengalaman dan membangun langsung pengetahuan itu.
    
6.        TEORI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
            Pada dasarnya teori ini bertujuan agar pembelajaran matematika dikelola dengan memperhatikan konteks (lingkungan) kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini dapat memberikan pengertian pada siswa bahwa pembelajaran matematika sangat berkaitan dengan kehidupan mereka. Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar. Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiranagar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil “menemukan sendiri” dan bukan dari “apa kata guru. Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial. Teori ini dapat dmanfaatkan dalam pembelajaran volume benda dan debit air. Misal anak diminta untuk menghitung volume bak mandi mereka, kemudian menghitung debt ar dengan ketentuan yang telah disepakati di kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar