Kamis, 29 November 2012

Persahabatan itu sederhana -part 1-



Persahabatan itu sederhana.
Hanya ada satu aturan, tidak boleh mudah tersinggung. Itu saja.
Emang apa bedanya sama teman?
Teman, kalo di FB asal add asal confirm, udah temen. Kalo di twitter asal saling follow udah temen. Kalo di dunia nyhata asal pernah ketemu, jabat tangan saling tahu nama, juga udah temen. Iya se-simple itu.
Tapi persahabatan lebih dalem, se-simple itu juga sih, Cuma disertai saling pengertian, gak ada iri, dan gak pernah saling ngrasani di belakang.

*flashback sebentar*
Dulu, aku sekolah di SMA (katanya) favorit di kabupaten Gunungkidul. Banyaaaaak temen di sana, secara satu angkatan aja 6 kelas, yang masing-masing 36 siswa. Tapi dari sebanyak itu –saat itu- sahabatku,,, eemmm satu mungkin.
Sebut saja Ajeng (@Dhi_Aajenk). Dia adalah seorang yang ku kenal saat aku mulai berstatus siswa SMA. Singkat cerita, aku memberinya predikat sahabatku. Apa yang aku alami aku ceritakan padanya. Dan kami bukanlah sahabat yang fanatik, artinya kami tak pernah melarang satu sama lain untuk bersahabat denga orang lain. Ya, buat kami, bersahabat bukan berarti tak dekat dengan teman yang lain.
Naikke kelas XI, kami masih tetap menjalin persahabatan, meski di sini kami mulai mempunyai teman-teman dekat yang lain. Di kelas XII inilah pembuktian bahwa persahabatan kami tidak fanatik. Di tingkat akhir ini kami tak lagi sekelas. kami punya teman dekat masing-masing di kelas. Meski begitu kami masih suka maen bareng saat istirahat, atau pergi bareng sepulang sekolah. Itulah, meski ada teman dekat lain, di dalam hati (kami) ku tetap ada tempat untuknya. Sahabat itu seperti potongan puzzle, potongan-potongan puzzlenya selalu punya tempat sendiri yang tak bisa terganti olehpotongan lain.

Persahabatan itu sederhana.
Lulus SMA jarak semakin memisahkan aku dan Ajeng. Selain jarak rumah yang jauh, kami juga kuliah di universitas yayng berbeda. Bahkan jurusan kami berbeda. Singkatnya, kami tak lagi sering bertemu, bahkan tak pernah ketemu. Komunikasi pun jarang. Hanya sesekali sms dan chat di FB. Aku sibuk dengan kegiatan kuliah yang padat ditambah dengan teman-teman dekat yang baru. Sepertinya Ajeng pun begitu.
Sampai akhirnya, kami lulus. Nah disinilah aku membuktikan keajaiban persahabatan. Persahabatan kami ku anggap persahabatan yang sederhana. Tak butuh aturan, tak butuh usaha yang keras. Dengan sendirinya kami kembali berkomunikasi secara intens. Eemmmm iya sih, karena adanya merk salah satu gadget yang mempertemukan kami.
Dengan gadget itu pula aku didekatkan dengan Arom (@kulyl) dan Nami (@namiwidi), yang adalah teman sekelas Ajeng saat kelas XII dulu. Iya, gadget memang yang akhirnya menjadi sarana pertemuan kami, tapi yang menjadi point adalah persahabatan kami tak lekang oleh waktu.
Kami berempat berasal dari empat jurusan berbeda, empat universitas berbeda, dan bahkan salah satu dari kami tinggal di kota ynag berbeda. Kami tergabung dalam salah satu group di jejaring sosial dengan username “Semua tentang Rencana”. Kenapa? Karena kami selalu membuat rencana, tapi sulit menyamakan waktu untuk bisa bertemu :)
Karena kami sadar betul, hidup itu segi banyak, tapi tak sampai jadi lingkaran, karena masih ada sudut yang memisahkan satu sisi dengan sisi yang lain. Dan kami meyadari bahwa kebersamaan kami tidak berada di seluruh sisi itu. Kami punya kehidupan di sisi lain.
Yang pasti di “Semua tentang Rencana” itulah kami berempat selalu bertemu.
Eemmmm indahnya persahabatan kami, kami sering bertemu di beberapa jejaring sosial secara bersamaan. Di salah satu jejaring kami bertengkar, di jejaring yang lain kami bercanda. Kami selalu mengutarakan pendapat kami secara terbuka. Kami tak pernah berpura-pura setuju kalau kami memang tidak setuju. Kami tak pernah berpura-pura ber-emote senyum kalau kami memang sedang sedih atau marah, karena kami sadar betul, sahabat selalu mengatakan yang sesungguhnya. Dan kami tak pernah merasa sakit hati. Sahabat adalah yang selalu mengatakan yang sebenarnya dan meluruskan tindakan kita, bukan yang membenarkan semua kata-kata dan tindakan kita.
Sederhana bukan? Ya, persahabatan itu sederhana, sangat sederhana. Dan entah sampai kapan komunikasi kami akan selancar ini. Sampai akhirnya satu per satu dari kami nanti mengakhiri masa lajang, dan punya kehidupan masing-masing. Sampai nanti saat itu tiba pun, aku yakin, kami takkan pernah saling menjauh, hanya akan mengerti porsi yang seharusnya :)

Selasa, 27 November 2012

lorong waktu


Hanya tiga orang kurang kerjaan narsis-narsisan di sungai.

iya, tapi makna yang terkandung di dalmnya sangat luas.
dulu, November 2007, aku masuk di sebuah organisasi yang benar-benar mengasah mental.
sebuah organisasi bernama Korps Sukarela Universitas Sanata Dharma.
Korps, ya, kebersamaan dengan rasa saling memiliki.
Sukarela, ya, kami tak pernah melakukan sesuatu dengan pamrih.
bagian dari universitas dimana aku menuntut ilmu, ya, Sanata Dharma.
 dengan semangat kemanusiaan kami menjalani kegiatan.

bergelut di dalamnya merupakan pengalaman yang wow banget.
awal masuk saja mental yang digojlok!
dibentak-bentak, merayap, push up, jalan jongkok, merupakan satu set aktivitas yang menjadi makanan sehari-hari.
hal yang paling enek tapi ngangeni adalah makan dalam waktu 5 menit, dengan porsi pekerja bangunan, nasi lauk oseng dan tempe yang kemudian dicampur dengan tangan, makanan 22 orang dijadikan satu.
hal yag paling berkesan adalah ketika harus masuk sungai dan akhirnya DILANTIK!!!
ya, organisasi seperti itu yang akhirnya memberiku banyak pengalaman.
*nnton acara musik TV live secara gratis
*tatap muka dengan artis Indonesia
*tidur di dalam ambulance
*dengan jurusanku yang guru SD bisa ngajar SMA :))

sampai pada suatu waku aku mundur perlahan dari dunia itu, fokus mengejar gelar.
ku raih gelar, kemudian aku masuk ke dunia yang benar-benar dunia ku. dunia anak-anak, dunia Sekolah Dasar. sesuai dengan jurusan yang aku ambil, bahkan sesuai dengan cita-citaku!

sampai akhirnya aku menyadari kerinduan yang mendalam pada organisasi yang telah membentuk mentalku.
ya! KSR Universitas Sanata Dharma.

Oktober 2012,
aku memberanikan diri kembali ke posko KSR USD, kembali bertemu teman lama, dan asik-adik angkatan, bahkan senior..
malu rasanya, pernah meninggalkan mereka,
malu rasanya, senior dan teman-teman masih di sana, sedang aku pernah egois pergi demi tiga huruf di belakang nama.
dan satu hal, Korps tetaplah KORPS. kebersamaan tetaplah kebersamaan. tetap berpegang pada Siamo Tutti Fratelli. aku tetap mereka terima. aku tetap dianggap bagian dari mereka.
akhirnya ku putuskan untuk memasuki lorong waktu, aku kembali ikut sebuah kegiatan terakhir pada proses pelantikan anggota baru. Gladi Lapang (GLP)
aku rasakan kembali euforia GLP.
kembali aku masuk-masuk sungai, kembali aku bekotor-kotor, kembali aku menikmati jiwa korsa.
dan yang jelas, aku bangga jadi bagian dari organisasi ini.

intinya,
setiap hal yang kita pilih dan kita yakini, jika dilakukan secara maksimal dan sepenuh hati akan menjadi batu loncatan yang kokoh

:))

Kamis, 04 Oktober 2012

Populer Nggak Populer



Macam-macam Populer dan (Nggak) Populer

1.    Anak Pupoler Pinter
Denger kategorinya aja aku udah mikir, “weitssss ngeri!!!!”. Ya, golongan ini golongan anak-anak pinter. Pinter bukan sekedar nilai matematika atau kimianya nggak pernah kurang dari 100. Tapi pinter yang populer adalah pinter yang selalu dapet nilai 100 di semua mata pelajaran (mungkin sampe mata pelajaran pilihan yang nggak mereka ambil juga) dan pinter presentasi di depan kelas (lebih ke “pinter ngomong” kali ya guys?!), bahkan yang selalu aktif (baik menang maupun nggak) pada lomba-lomba. Anak-anak kayak gini biasanya selalu mengacungkan tangan tiap ada pertanyaan dari pengajar. Entah apa yang mereka makan di rumah, tiap guru/dosen ceramah ngejelasin materi mereka ini ngangguk-ngangguk kayak orang ngerti, giliran suruh tanya, pertanyaan mereka beribet kayak pembantu baru, eh giliran ulangan, nilainya 100. Kalau di bangku kuliah, anak populer pinter itu biasanya rajin berkunjung ke ruang dosen sambil membawa diktat yang penuh stabilo. Kadang membawa sobekan koran, majalah, atau catatan alamat website sebuah program acara, tentunya sebagai bukti dan contoh kasus yang nyata.
Nih ya aku kasih contoh macam-macam kategori anak populer pinter:
a)    *kelas Biologi aku waktu*
Ars           : “bu, sifat kita kenapa bisa sama dengan orang tua?”
Guru        : “karena ada gen yang terdapat pada DNA, prosesnya begini ... bla... bla... bla...”
Ars           : “kalau terjadi persilangan pada saat pembuahan itu bagaimana maksudnya bu?”
*teettt teetttt bel istirahat*
Guru        : “OK Ars, nanti kita lanjutkan setelah istirahat”
Ars           : “tapi bu, nanti kan tinggal satu jam untuk evaluasi, tolong jelaskan sekarang bu.”
Bu Guru kembali menjelaskan. Dan kamu  tau, istirahat tertunda tanpa tambahan waktu L
b)      Waktu kuliah, aku nemuin kategori populer pinter, tapi pake modus diem-diem. Jadi di beberapa (baca: hampir semua) mata kuliah, tiap dosen masuk selalu bilang, “OK saudara, mbak Irda sudah datang ke ruangan saya menanyakan materi diktat halaman sekian dengan kasus nyata begini, saya kira saudara semua juga sudah membaca di rumah, maka silakan tutup buku, dan kuis segers dimulai”. Ngeri banget kan?! 
2.    Anak Populer Goblok
Selain kategori pinter, ada juga anak kategori goblok. Ada ya anak begitu? Di sekolah ternama sekalipun? Aku jamin pasti ada. Entah, bagaimana anak kategori goblok ini bisa diterima di sekolah/ perguruan tinggi. Mungkin saat tes masuk dia lagi beruntung. Di SD aku ada, maklum SD kampung, jadi siswa nggak pilih-pilih. Di SMA aku juga ada, sampe waktu kelas XII dia diperhatiin banget sama guru-guru, dikasih pelajaran ekstra. Di kampus aku dulu juga ada. Dan kamu tau di kampus UI??? Sodara aku ada tuh kuliah di sana, di sebuah fakultas yang nggak boleh aku sebut namanya, ada seorang goblok yang selalu ngulang semua mata kuliah, dan akhirnya di DO. Aku nggak berani ngomong banyak soal anak terkenal goblok ini. Biar kita liat sendiri di sekitar. Atau mungkin kamu bisa nemuin anak macam ini di kamar lo, manggil nyokap kamu dengan sebutan mama, manggil bokap kamu dengan sebutan ayah.
3.    Anak Populer Aktivis
Anak populer aktivis adalah anak yang selalu ikut kegiatan di sekolah/ kampus. Mereka nggak perlu pinter akademik, tapi dengan seabrek aktivitasnya mereka bisa dikenal oleh semua warga sekolah/ kampus. Banyak kegiatan yang selalu mereka ikuti. Di sekolah, anak kategori ini aktif jaga UKS, selalu menawarkan diri jadi petugas upacara, selalu ikut ekstrakurikuler, dan menawarkan diri jadi pengurus kelas. Setiap ada kegiatan peringatan hari besar biasanya mereka jadi panitia. Mereka juga rajin ngejemput guru yang masuk kelasnya telat. Mereka juga serius dan memprioritaskan pelaksanaan program OSIS. Kakamu di kampus, anak kategori ini pasti ikut UKM yang banyak. Mereka punya keahlian tertentu, entah musik entah nyanyi entah gambar, atau hobby tertentu yang dianggap keren.
4.    Anak Populer Nakal
Ada ya? Ya jelas lah, tanpa aku tulis aja kamu semua pasti udah tahu ada kategori ini. Coba kamu liat di sekolah lo! Iya kan? Mereka banyak bolos, banyak (bisa di baca selalu) nggak ngerjain PR, nggak bawa tugas, nggak merhatiin guru, ribut di kelas, nggak berpakaian rapi. Malah ada yang pake sepatu kanan sama kiri beda, beda warna, beda model, beda merk, bahkan mungkin ada yang beda ukuran J Anak begitu nggak mandang cowok maupun cewek. Dua-duanya bisa guys! Banyak kok cewek yang sering bolos, banyak kok cewek yang ngerokok di sekolah, banyak kok cewek yang suka minum minuman keras, banyak kok cewek yang suka ngecat rambut, banyak kok cewek yang suka malakin temen, banyak kok... banyak beneran! Dan kamu tahu pasti, yang begitu pasti sering dipanggil guru BP! Katanya sih mereka dinasehati, dibina, trus dikasih peringatan. Tapi besoknya tetep diulang, dipanggil lagi, diulang lagi, dipanggil lagi, diulang lagi... Karena seringnya begitu, alhasil tiap guru jadi hafal kan sama mereka?! Aku sampai sekarang nggak ngerti juga kenapa mereka berbuat begitu, mungkin pengen populer, atau sifat dasar mareka. Yang jelas, yang tertanam di otak aku, mereka begitu dan mereka menjadi terkenal titik!
5.    Anak Populer Nepotisme
Kategori ini kategori khusus, guys. Beda dari golongan populer yang lain. Kalau golongan populer yang lain terkenal karena tingkah atau hasil kerja mereka, golongan ini adalah golongan yang terkenal karena orang lain. Tahu dong ya yang namanya nepotisme? Iya, si anak populer itu ada hubungan kerabat dengan guru/ dosen. Mungkin anaknya, anak kakaknya, anak adiknya, anak kakaknya kakak ipar, anak adiknya kakak ipar, anak adiknya adik ipar, anak kakaknya adik ipar, anak iparnya kakak ipar, anak iparnya adik ipar, ah mungkin juga anak tetangganya, yang jelas punya hubungan dekat sama guru atau dosen. Di sekolah, anak begini kadang diminta duduk di depan dan sering ditunjuk sama guru buat ngejawab pertanyaan atau maju ke depan mengerjakan soal. Kalau nggak, guru ngejelasinnya sering deket-deket dia mungkin biar dia ngedenger dengan jelas. Di kampus ada juga? Ada dong guys! Mahasiswa kategori ini sering diminta jadi panitia ospek, kalau nggak bisa tembus seleksi ospek kampus, ya ospek fakultas atau ospek prodi. Atau panitia workshop, pelatihan, dan semacamnya, alhasil mahasiswa kategori ini bakal dapet banyak sertifikat dan pengalaman berorganisasi. Dan yang jelas dapet banyak info tentang berbagai kegiatan di kampus, sampai lowongan-lowongan beasiswa dan lowongan kerja.
6.    Anak Populer Cantik, Ganteng, dan Kaya
Guys, jadi anak cantik/ ganteng tu enak kali ya? Tanpa harus pinter, tanpa harus nakal, tanpa harus jadi aktivis, tanpa harus nepotisme, mereka bisa populer. Cukup dengan penampilan mereka, mereka bisa menjadi buah bibir dimana-mana. Di sekolah, anak kategori ini sering diejek guru tentang pacaran, dan kamu tahu guys, hal seperti itu kan ngena banget di hati anak sekolah, hal seperti itu tu semacam sanjungan kan? Di kalangan temen-temen, anak kategori ini pasti banyak yang naksir. Dan kamu juga tahu, hal ini justru hal paling keren di mata anak sekolah. Gimana enggak, jadi pusat perhatian, banyak yang nembak, banyak yang naksir, yang paling keren, tiap valentine banyak dapet coklat sama bunga mawar. Pas ultah banyak dapet kado, pas jalan pulang banyak yang nawarin tebengan. #huft. Meski anak dalam kategori ini ntar jadi player (playboy ataupun playgirl) mereka tetaplah keren. Bahkan ada yang rela jadi selingkuhannya. Coba kamu lihat disekitar lo, ada kan yang begitu? Atau kamu sendiri? Atau kamu sebagai pengagum? Kategori ini nggak usah dibahas banyak ya guys, aku nyesek ngebahasnya. Kamu sih enak cakep, lah aku? SUDAH, LUPAKAN!
Anak yang kaya juga nggak perlu susah-susah melakukan apapun buat jadi terkenal. Anak dalam kategori ini seakan bisa ngebeli semuanya pakai kekayaan, yang bukan kekayaannya sendiri itu. Mereka bisa beli jajan buat temen-temen, bahkan mereka bisa beli PR temen, pokoknya mereka bisa beli temen deh. Aku kasih contohnya nggak usah jauh-jauh. 
OK guys, udahan ya bahas anak populernya, contoh lain kamu pasti bisa liat di sekitar lo. Sekarang coba lihat ke cermin deh, perhatiin baik-baik tuh manusia yang di cermin. Termasuk kategori yang mana tu orang? Atau kamu sama kayak aku? Aku? Kalau kamu tanya aku, kamu udah tahu pasti jawabannya kan? Iya, aku nggak ada di antara kategori-kategori di atas. Kepopuleran aku nggak pake embel-embel apa pun, aku masuk dalam kategori anak (nggak) populer. Macam-macam anak nggak populer itu, begini:
1.      Anak (Nggak) Populer
Dalam kategori ini, mereka adalah anak yang nggak populer.
2.      Anak (Nggak) Populer
Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang nggak populer.
3.      Anak (Nggak) Populer
Anak (nggak) populer adalah anak nggak populer.
4.      Ah capek, cuma ada satu sih, anak nggak populer tu ya anak nggak populer aja. Mau pake kurung ataupun enggak, ya tetep nggak populer. Cuma bedanya kalau pake tanda kurung tuh, kesannya kata ‘nggak’nya jadi terbungkus gitu J
Anak nggak populer itu anak yang biasa aja. Mereka masuk sekolah/ kuliah rajin, tugas selalu buat, PR selalu bikin, patuh sama aturan yang berlaku. Anak nggak populer sebenernya nggak pasif kok di kelas, cuma anak kategori ini sering kalah aja sama anak populer. Aku juga nggak ngerti tuh kenapa. 

























*continue