Kamis, 17 Oktober 2013

Satu Inchi Sisi Kota Yogyakarta


Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu wilayah setingkat provinsi yang terletak di Pulau Jawa. DIY merupakan wilayah berbentuk kerajaan yang dikepalai oleh seorang sultan. Saat ini, DIY dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. DIY berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan, dan Provinsi Jawa Tengah di sisi yang lain. DIY memiliki empat kabupaten, yaitu Gunungkidul, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo, serta satu kotamadya, yaitu Yogyakarta.
Kota Yogyakarta merupakan jantung Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di kota inilah as roda pemerintahan DIY. Titik nol kilometer Kota Yogyakarta terletak di depan pintu masuk Alun-alun Utara sebelah utara. Alun-alun Utara adalah lapangan besar dengan sepasang pohon beringin di tengahnya, yang terletak di sebelah utara Kraton Yogyakarta. Di kawasan Kraton dan Alun-alun Utara inilah tradisi tahunan Sekaten digelar. Selain sebagai pusat pemerintahan, di kota ini juga terdapat kegiatan perekonomian, tempat hiburan, dan tempat atau bangunan bersejarah. 
Salah satu bangunan bersejarah di Kota Yogyakarta yang kurang terambah, bahkan tidak banyak yang tahu, adalah bangunan yang dikenal dengan sebutan “Gereja Gothic Sayidan”. Bangunan ini terlihat jelas dari jembatan Sayidan. Jika akan menuju ke sana, ambil arah selatan di perempatan Gondomanan, masuk gang ke timur tepat setelah lampu lalulintas pertama. Kemungkinan bangunan itu sudah berdiri sejak jaman Hindia Belanda. Hal itu terlihat dari bentuk bangunan yang bergaya Eropa. Dari kejauhan terlihat ada Patung Yesus yang mengangkat tangan, seolah-olah memberikan berkat bagi semua makhluk yang melihat.





*Belum ada foto, akan segera menyusul*
:D

Rabu, 12 Juni 2013

Jika dan Hanya Jika

Bersamamu, jika dan hanya jika bersamamu,
aku bisa, aku bertahan, aku mau.
Demi kita, jika dan hanya jika demi kita,
aku mau untuk bahagia, aku rela melepas tawa.
Tanpa kamu, jika dan hanya jika tanpa kamu,
tetap aku ada, namun dalam hampa.
Untuk kita, jika dan hanya jika untuk kita,
aku selalu bilang iya, aku selalu yakin mampu.
Dengan kamu, jika dan hanya jika dengan kamu,
aku ikhlas meneguk aliran kehidupan, yang terkadang pahit.
Tentang kita, jika dan hanya jika tentang kita,
aku akan menggoreskan pena kisah kasih pada lembar hati.
Untuk harirmu, jika dan hanya jika untuk hadirmu,
aku tulus membiarkan hilang waktuku.
Menuju masa depan kita, jika dan hanya jika masa depan denganmu,
aku bangga menggantung asa, setinggi bayang-bayang, setinggi batas pandang.
Karena senyawa dalam aku, tersusun atas kamu, aku, dan kita.

-nduk-

Senin, 20 Mei 2013

Sandiwara


kehidupan yang sesungguhnya adalah kemunafikan dan sandiwara,
seperti lagu yang pernah tenar oleh suara Nike Ardila "Panggung Sandiwara",
begitulah sesungguhnya diceritakan keadaan manusia yang sesungguhnya.

~http://musiklib.org/Achmad_Albar-Panggung_Sandiwara-Lirik_Lagu.htm~

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan
Mengapa kita bersandiwara

   ***     ***     ***

Dunia ini panggung sandiwara, ceritaya mudah berubah,,,
sandiwara yang sesungguhnya adalah kehidupan sehari-hari.
manusa tidak pernah menjadi apa adanya dirinya ketika berproses dalam kehdupan sehari-hari,
begitu kenyataannya.
para pelajar,,,
harus ikut apa kata guru, sama saja antara sekolah formal dan home schooling, ada pemandu.
para mahasiswa yang selalu ingin memenuhi kemauan dosen, atau para karyawan yang selalu ingin terlihat baik dimata atasan.
iya, mereka menjadi diri mereka sendiri, tetapi lihat saja!
apakah mereka benar-benar menjadi diri sendiri???
iyakah seorang selalu ingin kepuasan diri sendiri saja??

Ada peran wajar, ada peran pura-pura,,,
peran wajar, sewajar para pejabat korupsi?
sewajar para generasi bangsa tidur di kelas?
sewajar para anggota DPR tidur dalam sidang?
peran pura-pura,
pura-pura menjadi malaikat,,,
menjelma menjadi penlong,,,
menampakkan diri sebagai pahlawan,,,
mereka itukah? yang di belakang justru mengeruk keuntungan diri sendiri?


Mari bercermin,,,,